MY DIGITAL PORTOFOLIO DAY-2

 




MATERI  I

Pemateri: Ainun Najib, Alih IT Indonesia

Tema: Perguruan Tinggi di era Digital dan Revolusi Industri

      Seperti apa sih? era Ai saat ini banyak yang bilang bahwa kita sedang mengalami revolusi industri yang berikutnya. Jadi kalau analogi Ai yang paling disepakati saat ini tuh analogi Ai yang paling di sepakati saat ini tuh analoginya seperti menemukan listrik. Menemukan listrik dalam kehidupan umat manusia, sesuatu yang sangat masif dampaknya dan sangan menjadi katalis untuk inovasi dan perkembangan teknologi yang mengubah umat manusia. Itulah revolusi industri yang sedang kita alami saat ini revolusi, karena munculnya teknologi Ai. Konteksnya apa dengan perguruan tinggi di era sekarang tantangan yang terbesar tentu adalah bagaimana adik-adik ini bisa siap menggunakan teknologi ini dan tidak malah rugi, tidak malah dirugikan dengan kehadiran teknologi yang terlalu memudahkan. 

      Saya ingin mengangkat pesan ini, kuadran ini dibikin oleh Khaifuli di tahun 2018 dia menulis buku "Ai Super Power". Sudah 7 tahun yang lalu dan dalam konteks perkembangan itu adalah masa yang sangat panjang. Karena, Chat GPT usianya baru 3 tahun tapi kita sudah merasakan dampaknya yang sangat luas. Ini sudah 7 tahun lalu bayangkan Ai saat itu sifatnya masih nru Ai. Masih spesifik untuk tujuan tertentu saja , misalnya rekomendasi video youtube, rekomendasi belanja, optimis rute rute seperti di peta google maps. Biasanya Ai saat itu adalah yang spesifik bukan yang generik yang bisa diajak mengobrol apapun topik. 

      Bahkan bisa menjadi teman curhat, seperti sekarangpenggunaan Ai yang paling umum adalah teman curhat. Ditahun itu pun, Pak Khoifuli ini sudah mengintefikasi bahwa dalam jangka panjang itu akan makin canggih dan makin canggih. Sehingga hampir semua pekerjaan akan di otomatis & bahkan dieliminasi oleh Ai. Hal ini yang dipaparkan oleh beliau untuk membantu kita, bagaimana kita bisa mengantisipasi & beradaptasi di era Ai. Dan hal ini masih terus akurat & sepertinya yang paling bisa jadi pegangan untuk jangka panjang. 

     Argumen beliau dalam hal ini, ada 2 hal yang secanggih-canggihnya Ai dia tidak akan bisa menggantikan manusia. Argumen yang pertama adalah "kemampuan berfikir kreatif, kemampuan menciptakan sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya, kemampuan berfikir strategis, dan kecerdikan". Jadi Ai bdalam bahasa Indonesia adalah "Kecerdasan Buatan", dia cerdas tapi dia belum cerdik. Cerdik itu sepertinya akan menjadi ranah manusia terus kedepannya. Dan Ai mungkin tidak bisa secerdik manusia, tidak bisa berfikir strategis, berfikir kreatif, menciptakan, menciptakan ide-ide baru sebelumnya. 

      Kenapa Ai secara prinsip tidak akan bisa menyamai manusia, apalagi mengungguli manusia dalam konteks kreatifitas?. Karena teknologi Ai basisnya adalah memproses data yang sangat-sangat besar, semua informasi yang dimaksudkan ke dalam Ai terus dia langsung pelajari. Maka dari itu istilahnya "Machine Learning", jadi yang belajar mesinnya. Mesinnya yang belajar dari data "Mechine Learning". Dia hanya bisa mencari patikan, meringkas, merangkum apa yang dia baca, apa yang dia lihat data video, data foto, dan seterusnya.



MATERI  II

Pemateri: Dimas Chairullah, S.Sos., CPS

Tema: Bijak dalam Bermedia Sosial "Kunci Menjadi Netizen yang Cerdas"

      Kenapa kita harus bijak dalam bermedia sosial?. Seperti yang aku bilang di awal kalau media sosial itu adalah pedang yang bermata dua. Bisa jadi untuk alat belajar, berkarya, dan terhubung dengan banyak orang, membangun personal branding sekarang. Tetapi juga menjadi sumber masalah juga (kecemasan, cyberbtidak reaullying, penipuan banyak banget terjadi sekarang). Kemudian dampak ke diri sendiri, pengaruh terhadap mental, karena sekarang ada FOMO, standar kecantikan) hidup yang tidak privasi, & reputasi. Karena seperti yang aku bilang tadi "siapapun berhak update apapun ke media sosial", tapi kita tidak tahu apakah itu benar terjadi atau tidak. 

      Dampak ke orang lain, informasi hoax, hate speech, dan perundungan siber. Bahkan sekarangpun banyak pelecehan yang dilakukan di media sosial jadi hati-hati, makanya kita harus bijak. Apalagi anak muda gen-z hidup di era teknologi yang sangat canggih. Yang namanya "Jejak Digital" ada tapi tidak terlihat, hati-hati karna sekarang HRD pun mengecek apa treek record kalian di media sosial. Pengertian dari jejak digital yaitu, semua data yang kita tinggalkan saat berinteraksi di internet, baik yang kita sisadari maupun tidak seperti (foto, komentar, like, pencarian) itu akan selamanya ada. 

      Jejak digital itu permanen, apa yang kita unggah akan sulit dihapus 100%. Bahkan post yang sudah dihapus bisa sudah di-capture atau di-share oleh orang lain.  Dampak jangka panjang, bisa memengaruhi peluang kerja, beasiswa, atau bahkan hubungan sosial di masa depan. Maka dari sekarang jaga diri, jaga data kalian di media sosial. Jangan gampang memberikannya ke orang lain. 

      Jangan pernah unggah data pribadi, hindari membagikan alamat rumah, nomor telepon, atau bahkan data penting lain. Pintar mengatur pengaturan privasi, gunakan fitur "private account" atau "friends only" di media sosial. Hati-hati dengan informasi lokasi, matikan fitur berbagi lokasi secara otomatis, karena sekarang bisa dilacak dari segi manapun. Waspada phising dan penipuan, jangan mudah klik tautan mencurigakan atau memberikan kata sandi ke orang lain. Makanya kalo ada dari orang yang ga di kenal ngasih link yang tidak jelas, ngasih yang tidak tau sumbenya dari mana, kalian harus cross check terlebih dahulu jangan langsung di klik. 

      Penting banget "Saring sebelum Sharing" adalah kunci melawan hoaks. Ketika kalian dapat informasi atau informasi yang masih diragukan, kalian harus saring sebelum sharing. Tanya dulu ke diri sendiri, "apa sumber informasinya?", "apakah media yang kredibel?", "apakah ada bukti lain?" harus di cross check lagi. Cek fakta, gunakan situs cek fakta resmi (trun back hoax, cek fakta kominfo). Waspada judul provokatif, hoaks seringkali memakai judul yang sensasional untuk menarik perhatian. 

      Tahan diri, lebih baik, tidak menyebar dari pada menyebarkan informasi yang salah. Karena ini ranahnya media sosial, semua orang bisa lihat, semua orang bisa berkomentar, semua orang bisa melihat apapun yang kalian posting. Dan bahkan ngeshare informasi salah atau informasi hoax, kemudian di share lagi, ini bahaya banget hati-hati. Jadilah netizen yang cerdas dan santun. 



MATERI  III

Pemateri: KH Ma'Ruf Khozin - PWNU 

Tema: Jatim "Mencetak Mahasiswa Unusa sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah"

     Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) secara inheren diposisikan sebagai penerus dan pewaris tradisi keilmuan serta keagamaan Aswaja An-Nahdliyah, mengingat universitas ini didirikan dan berafiliasi langsung dengan Nahdlatul Ulama (NU)—organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menjadi rujukan utama paham Aswaja An-Nahdliyah. Berikut penjelasan mendalam mengenai peran dan karakteristik mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah:

1.⁠ ⁠Landasan Ideologis: Apa Itu Aswaja An-Nahdliyah?

      Aswaja (Ahlusunnah wal Jama'ah): Merupakan paham keislaman yang mengikuti jejak generasi terbaik (salafus shalih) dalam beragama, berpegang pada Al-Qur'an, Hadis, Ijma Ulama, dan Qiyas.

 An-Nahdliyah: Merujuk pada corak ke-NU-an yang menekankan keseimbangan (tawazun), moderasi (tawassuth), toleransi (tasamuh), dan kemaslahatan (ishlah).

Ciri Khas:

Berada di tengah (bukan ekstrem kanan maupun kiri).

Menghormati keberagaman mazhab (terutama Syafi'iyyah dalam fiqih, Asy'ariyyah/Maturidiyyah dalam akidah, dan Al-Ghazali dalam tasawuf).

 Mengutamakan dampak sosial dari pemahaman agama (fiqih sosial).

2. Peran Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah

a. Penjaga Tradisi Keilmuan

      Mahasiswa UNUSA dididik untuk memahami dan mengamalkan khasanah keilmuan klasik NU (kitab kuning) dengan pendekatan kontekstual. Contoh: Studi kitab seperti Ta'limul Muta'allim, Fathul Qorib, atau Uqudulujain yang menjadi rujukan etika dan ibadah dalam tradisi NU.

 b. Agen Moderasi Beragama

        Sebagai kader NU, mahasiswa UNUSA diarahkan untuk menjadi pelopor toleransi dan perdamaian: menolak radikalisme dan ekstremisme, membangun dialog antaragama dan budaya, menyebarluaskan Islam yang rahmatan lil 'alamin (kasih sayang untuk semesta).

 c. Pejuang Kemaslahatan Sosial

       Aswaja An-Nahdliyah mengutamakan amar ma'ruf nahi munkar melalui pendekatan yang bijak:

 Terlibat dalam pemberdayaan masyarakat (ekonomi, pendidikan, kesehatan).  Mengadvokasi isu-isu kemanusiaan (lingkungan, kesetaraan gender, anti-korupsi). Contoh: Kegiatan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Islam di UNUSA yang fokus pada sosial kemasyarakatan.

 d. Inovator dalam Tradisi

       Mahasiswa UNUSA didorong untuk mengadaptasi nilai-nilai Aswaja dalam konteks modern:

 Mengembangkan teknologi dan startup berbasis nilai Islam. Menyelesaikan masalah kontemporer (seperti hoaks, radikalisme online) dengan perspektif Aswaja. Mempopulerkan budaya lokal (seperti gamelan, wayang) sebagai bagian dari dakwah kebudayaan NU.

 3. Implementasi di Kampus UNUSA

       Kurikulum: Mata kuliah wajib seperti Pendidikan Agama Islam, Ke-NU-an, dan Aswaja An-Nahdliyah yang mengajarkan landasan teologis dan praktis. 

Kegiatan Kemahasiswaan: Majelis Taklim: Kajian kitab klasik dan kontemporer.

Lembaga Semi Otonom (LSO): Seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) atau IPNU/IPPNU yang mengkader aktivis Aswaja.

Festival Budaya NU: Mengangkat tradisi seperti shalawatan, hadrah, dan dzikir.

Kolaborasi dengan NU: Mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan PBNU atau PWNU Jawa Timur, seperti Muktamar, Harlah NU, atau program sosial.

 4. Tantangan bagi Generasi Aswaja An-Nahdliyah

       Globalisasi dan Radikalisme: Menjaga identitas Aswaja di tengah arus pemikiran transnasional yang ekstrem.

 Disrupsi Digital: Menyebarkan narasi Aswaja yang moderat di ruang maya yang rentan hoaks.

 Relevansi Pemuda: Membuktikan bahwa Aswaja An-Nahdliyah adalah solusi bagi masalah modern, bukan sekadar warisan masa lalu.

 5. Kesimpulan: Mahasiswa UNUSA sebagai "Generasi Harapan"

        Mahasiswa UNUSA bukan sekadar penuntut ilmu, melainkan kader peradaban yang dituntut untuk: Menginternalisasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam kehidupan pribadi. Mengimplementasikan prinsip moderat, toleran, dan maslahah dalam bermasyarakat. Mengembangkan tradisi intelektual NU untuk menjawab tantangan zaman.

      Dengan demikian, mereka menjadi jembatan antara warisan ulama Nusantara dan masa depan Indonesia yang berkeadilan, beradab, dan berkepribadian Islam. Seperti dikatakan KH. Hasyim Asy'ari: "NU itu tugasnya nguri-uri (melestarikan) yang shalih dan ngembangke (mengembangkan) yang aswaja." Mahasiswa UNUSA adalah garda terdepan dalam misi ini.



Berikut media sosial UNUSA:

- Facebook: https://www.facebook.com/unusaofficialfb

- Instagram: https://www.instagram.com/unusa_official/

- Youtube : https://www.youtube.com/@unusa_official

- Twitter ( X ): https://x.com/unusa_official?lang=en

- Tiktok : https://www.tiktok.com/@unusa_official


Jangan lupa cek blog teman saya: triahanjar58




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume Tiga Alumni FEBTD Unusa Raih Beasiswa ke Taiwan, Wujudkan Mimpi Studi Internasional

ESSAY TUGAS PKKMB FEBTD

RESUME PKKMB PRODI